Masih segar berita atas kasus terbunuhnya Alawy siswa SMA 6 Jakarta
karena tawuran dengan SMA 70 Jakarta, kemarin sore muncul lagi kasus
yang sama dan memakan korban terbunuhnya Deni Januar siswa SMA Yayasan
Karya 66 karena tawuran dengan SMK Kartika Zeni. Sungguh sangat ironi
kasus tawuran pelajar yang kembali terjadi di kawasan Manggarai -
Jakarta Selatan ini. Karena semua pihak sedang
berusaha mencari jalan keluar penyelesaian dan antisipasi agar kasus
serupa tidak akan terjadi lagi, tanpa diduga muncul kasus yang sama.
MasyaAllah.
Sesuai dengan data statistik yang saya lihat di sebuah siaran
televisi swasta nasional, dalam tahun 2012 sampai dengan bulan
September ini saja setidaknya sudah memakan korban tewas 30 orang siswa
karena tawuran antar pelajar. Sungguh sangat memprihatinkan sekali
kondisi para siswa kita.
Memang kasus tawuran antar pelajar di Ibu Kota Jakarta ini selalu
saja mewarnai dinamika kehidupan metropolitan setiap tahunnya. Jadi
rupanya sudah menjadi tradisi karena dari tahun ke tahun selalu saja ada
dan tidak pernah teratasi masalah tersebut. Lalu siapa atau apa yang
salah dengan tawuran pelajar di Jakarta?
Banyak para ahli mencari akar masalah terjadinya tawuran pelajar yang
tidak pernah berakhir ini. Masing-masing ahli pun memberikan solusi
atau jalan keluar terbaik untuk mengatasi masalah tawuran pelajar ini.
Di antaranya ada yang mengatakan bahwa kurikulum sekolah terlalu berat
sehingga para siswa merasa terbebani dan akhirnya mencari pelampiasan di
luar sekolah.
Saya bukan seorang yang ahli di bidang pendidikan, tetapi saya merasa
prihatin atas kejadian yang selalu saja terulang ini. Barangkali kalau
kita mau jujur menurut saya ini merupakan indikasi bahwa betapa rapuhnya
institusi kehidupan keluarga kita. Hal ini karena usia anak sekolah
atau pelajar sebenarnya sepenuhnya masih menjadi tanggung jawab dan
pengawasan orang tuanya. Orang tua bertanggung jawab mengawasi setiap
sikap dan tingkah laku anaknya. Dengan siapa dia berteman? Bagaimana
model pertemanannya? Kapan waktu yang diperbolehkan bermain? Kapan waktu
yang harus dipergunakan untuk belajar? Jam berapa berangkat sekolah,
jam berapa pulang sekolah? Jam berapa sampai di rumah? dan seterusnya
ini semua harus disadari oleh setiap orang tua yang mempunyai anak usia
sekolah. Sekali lagi, pengawasan seperti itu sepenuhnya menjadi tanggung
jawab orang tua.
Apabila fungsi pengawasan orang tua terhadap anak-anaknya yang masih
dalam usia sekolah kendor atau bahkan tidak mau peduli sama sekali,
sudah dapat dipastikan bahwa anak kita akan mencari jalan sesuai
seleranya sendiri. Ironinya jalan yang sering diambil oleh anak-anak
usia sekolah biasanya hal-hal yang bertentangan dengan norma dan aturan
hidup yang baku. Pada akhirnya nasihat orang tua dianggap tidak berguna
dan mereka lebih mendengarkan nasihat teman sebayanya.
Orang tua biasanya berdalih karena sibuk mencari nafkah sehingga
tidak sempat memperhatikan pendidikan anaknya. Dalam hal demikian saya
pun maklum, memang kita dituntut memenuhi kebutuhan hidup keluarga kita.
Namun satu hal yang tidak boleh kita lalaikan yaitu masalah pendidikan
anak-anak kita. Kita sebagai orang tua harus sadar bahwa anak adalah
amanah atau titipan Allah yang harus kita didik, kita bina, kita asuh
dan seterusnya agar menjadi anak yang berbakti pada orang tua dan
berguna bagi agamanya, nusa dan bangsa.
kalau sudah seperti ini, siapa yang salah !! apakah ini karakter dari dunia pendidikan kita ??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar