Segera setelah kebijakan sertifikasi digulirkan pemerintah, banyak guru (termasuk saya) yang kemudian gamang mengenai arti sesungguhnya dari ‘profesionalisme’. Guru yang mengajar di kelas dari hari ke hari punya dua ujung sebagai perjalanan kariernya. Ujung pertama adalah rutinitas, artinya ia akan jadi orang yang pasif, terjebak rutinitas, cenderung bekerja demi harapkan gaji dan tunjangan di akhir bulan. Ujung kedua adalah ia semakin cinta pada profesi dan terus meningkatkan diri serta merasa hidupnya ‘berkah’ karena mengajar dan menyebarkan ilmu.
Pasti semua dari kita ingin menjadi guru yang menemui ujung kedua seperti yang saya ceritakan di atas. Untuk sampai kesana tidak bisa tidak kita membutuhkan karakter. Sebuah karakter yang memang tidak mudah untuk dipraktekkan serta berhubungan dengan banyak faktor lain. Silahkan mencermati karakter apa saja yang bisa membuat seorang guru menjadi guru profesional;
1. Rendah hati
Karakter ini membuat seorang guru berpikiran terbuka serta mudah menerima hal-hal baru. Di depan siswa atau sesama guru ia terus terang jika tidak tahu. Maklum ditengah pesatnya pertumbuhan dan akses kepada informasi, semua orang benar-benar mesti belajar kembali dan bersedia menjadi seorang pembelajar. Hal ini membuat ia menjadi mitra belajar yang mengasyikkan bagi siswa dan sesama guru. Karakter rendah hati juga menjadi pembuka jalan bagi masuknya ilmu baru. Di sebuah sekolah jika semua gurunya rendah hati akan terjadi transfer ilmu dan terbentuk komunitas pembelajar, karena semua orang dihargai dari apa kontribusi tenaga dan ilmunya dan bukan dari seberapa seniornya ia di sekolah.
2. Pandai mengelola waktu
Sebagai seorang yang bekerja dengan administrasi serta tugas mengajar yang banyak setiap minggunya, guru dituntut untuk pandai mengelola waktu. Bukan cuma siswa dikelas saja yang punya hak terhadap diri kita, namun juga keluarga terdekat kita di rumah yang memerlukan perhatian. Guru yang pandai mengelola waktu membedakan prioritas dalam bekerja, mana yang mesti dikerjakan sekarang atau yang mesti digarap secara bertahap.
3. Menghargai proses.
Saat mengajar sering kita pulang ke rumah dalam keadaan yang sangat lelah. Sering juga kita dilanda kebosanan sambil berucap dalam hati “seperti inikah rasanya jadi guru”. Sebagai manusia biasa wajar sekali jika perasaan itu datang. Semua perasaan tersebut akan hilang jika sebagai guru kita menghargai proses. Proses yang saya maksud adalah seperti jalannya atau perputaran alam semesta yang kita rasakan. Ada pagi ada siang, ada gelap dan ada terang. Jika suatu saat kita gagal atau belum berhasil dalam mengajar, hargailah usaha yang diri kita sendiri lakukan. Sebab mengingat-ingat kegagalan tanpa memandang atau menghargai usaha diri kita sendiri akan membuat malas di kemudian hari untuk melakukan inovasi dalam mengajar. Ada perasaan khawatir atau takut untuk berubah hanya karena pernah gagal. Jika itu terjadi siswa yang akan jadi korban karena sebagai guru anda akan tampil biasa-biasa saja dan miskin inovasi.
4. Berpikiran terbuka
Informasi dan ilmu pengetahuan berkembang dan bertambah sedemikian pesatnya. Dalam hitungan detik informasi bertambah dengan cepat. Saat ini informasi ada di mana saja, semua tersedia tinggal bagaimana seseorang dengan pikirannya bisa mencerna dan memanfaatkan. Sebagai seorang guru sikap berpikiran terbuka inilah yang paling bermakna saat ini untuk diterapkan. Dengan berpikiran terbuka guru jadi mudah untuk menerima perbedaan dan senang akan perubahan. Di kelas dan sekolah sejak dulu siswa dibagi menjadi murid yang ‘pintar’, ‘bodoh’ dan ‘sedang-sedang saja’. Belum ada pikiran yang terbuka yang mengatakan bahwa setiap anak adalah unik dan bisa menjadi ‘juara’ di bidangnya masing-masing. Saat guru berpikiran terbuka ia akan bisa sekuat tenaga membuat setiap siswa di kelasnya meraih masa depan sesuai potensinya. Dengan pikiran terbuka guru juga jadi mudah untuk menyerap ilmu dari siapa saja tanpa mesti katakan “aah saya sudah tahu” atau “ah saya sudah pernah menerapkan” karena di masa sekarang ini ilmu bisa datang dari siapa saja, ia bisa datang dari buku dan media massa, sesama guru, orang tua siswa bahkan dari siswa kita di kelas.
5. Percaya diri
Bedakan antara rasa percaya diri dan sombong. Dalam mempersiapkan dan merencanakan pengajaran di kelas bisa saja guru mengatakan semua yang akan diajarkannya sudah ada di ‘luar kepala’ hal ini berarti sama saja mengatakan sebagai guru ia anti terhadap kegiatan belajar lagi. Padahal bukan seperti itu guru yang percaya diri. Guru yang percaya diri akan sekuat tenaga mempersiapkan sambil tetap percaya diri jika ada masalah yang timbul saat ia sedang melaksanakan perencanaan pengajarannya. Ia yakin sesulit apapun masalah yang timbul saat ia sedang melaksanakan hasil perencanaan pengajarannya, tetap akan memberikan pengalaman dan masukan bagi karier mengajarnya di masa depan.
Kegembiraan sejati tidaklah berasal dari kemudahan yang menyertai kekayaan atau pujian-pujian melainkan dari melakukan sesuatu yang berguna..
Senin, 01 Oktober 2012
5 karakter guru yang profesional
Harapan kurikulum baru
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengungkapkan
bahwa akan ada perubahan kurikulum. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
yang kini sedang berlangsung—meski baik—dianggap kurang cocok dengan
zamannya, maka perlu diperbarui (Kompas, 5/9).
Apa
yang diharapkan dari kurikulum baru? Kurikulum baru idealnya
memperhatikan minimal konteks anak zaman yang mau dibantu, kritik
pendidikan yang banyak muncul terhadap Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) saat ini, dan kebutuhan bangsa ke depan.
Konteks anak zaman
Anak
sekarang termasuk anak generasi Z (generation net). Mereka kebanyakan
sudah terbiasa berkomunikasi menggunakan internet, Facebook, Twitter,
Blackberry. Mereka hidup dalam budaya serba cepat sehingga tak tahan
dengan hal-hal yang lambat. Mereka anak-anak budaya instan yang serba
ingin berhasil dalam waktu cepat dan kalau bisa tanpa usaha keras.
Anak-anak ini butuh model pendekatan dan model belajar yang
berbeda. Mereka sudah terbiasa dengan internet, maka model pembelajaran
harus menggunakan teknologi modern itu. Kalau tidak, mereka akan bosan.Mereka sudah sering mengerjakan berbagai persoalan dalam
satu waktu. Kalau mereka mengerjakan PR, mereka sekaligus juga membuka
laman lain, sambil masih bicara dengan teman lewat HP dan chatting
dengan teman lain lagi lewat Facebook. Perhatiannya biasa
terpecah dalam berbagai hal. Dalam mempelajari suatu bahan mereka tak
mau urut, kadang dari belakang, kadang dari tengah, kadang dari muka.
Ini berarti model pendekatan linear sudah kurang tepat bagi mereka.
Perlu dicarikan model-model yang berbeda.
Kemajuan
teknologi internet dan media menjadikan anak sekarang dipenuhi berbagai
informasi dari segala penjuru dunia. Di tengah kekacauan informasi dan
nilai ini mereka dituntut lebih punya keterampilan menganalisis secara
kritis, memilih secara bijak, serta mengambil keputusan bagi hidupnya.
Maka, ke depan, kurikulum, model dan cara pembelajaran harus mampu
membantu anak menganalisis secara kritis, memilih, dan mengambil
keputusan dalam hidup.
Karena guru bukan lagi satu-
satunya sumber belajar dan pengetahuan, sikap anak terhadap guru pun
berubah. Guru bukan satu-satunya yang harus dihormati. Maka, sikap guru
pun harus berubah: bukan sebagai orang pinter yang akan menggurui,
melainkan lebih sebagai fasilitator yang menjadi teman belajar. Guru
tidak perlu marah bila kurang didengarkan oleh anak.
Beberapa
kritik terhadap sistem pendidikan kita, terutama level SD hingga
menengah, mengungkapkan bahwa mata pelajaran terlalu banyak, ada 14-16
macam. Jumlah mata pelajaran yang begitu banyak, dengan jam yang
sedikit, menjadikan siswa tidak terlatih belajar bertekun dan mendalam.
Mereka mudah puas pada lapisan atas saja. Maka, kemampuan mengolah
bahan, menganalisis secara kritis bahan, kurang terjadi.
Pendidikan
kita masih terlalu menekankan segi kognitif. Ini pun masih terbatas
pada mencari nilai angka, bukan kemampuan menganalisis secara kritis dan
mendalam suatu bahan. Akibatnya, nilai karakter sangat dibutuhkan bagi
kejayaan bangsa ini kurang mendapatkan tekanan. Tujuan
pendidikan pada jenjang SD, SMP, SMA kurang begitu jelas. Sebenarnya
apa yang diharapkan bila anak lulus SD, SMP, dan SMA? Kompetensi atau
tujuan yang ingin dicapai ini perlu jelas, tak terlalu banyak, dan dapat
dimengerti oleh siapa pun.
Kita perlu sadar, kita
mendidik anak Indonesia, bukan manusia dewasa Indonesia. Maka, tuntutan
kepada anak pun harus terbatas. Dalam UU Sisdiknas dan juga dalam
standar pendidikan, anak- anak kita terlalu banyak dituntut sesuatu yang
sebenarnya lebih merupakan tuntutan bagi orangtua. Akhirnya, kalau hal
itu tidak terjadi, kita frustrasi dan anak mengalami beban berat.
Demi keutuhan bangsa ini, anak-anak bangsa harus rela menerima
perbedaan di antara kita dan belajar hidup dalam semangat perbedaan itu.
Maka, semangat multikultural dan penghargaan kepada tiap-tiap pribadi
manusia harus ditekankan.
Kurikulum ke depan
Berdasarkan
beberapa analisis di atas, kurikulum baru diharapkan memuat beberapa
hal.
- Tujuan yang jelas untuk setiap jenjang SD, SMP, dan SMA. Tujuan ini harus singkat, sederhana, sesuai jenjangnya, dan mudah dimengerti oleh siapa pun.
- Jumlah mata pelajaran perlu dikurangi sehingga anak dapat belajar lebih mendalam, dapat berpikir lebih kritis.
- Pendidikan sikap dan karakter harus dapat tekanan, bukan hanya pengetahuan.
- Kurikulum yang membantu anak dapat belajar memilih dan mengambil keputusan dalam levelnya.
- Kurikulum yang juga menunjang kesatuan bangsa, maka pendekatan multibudaya dan penghargaan pada nilai manusia mendapatkan tekanan.
- Metode dan model pembelajarannya disesuaikan dengan situasi anak zaman.
- Bentuk evaluasi, termasuk UN, perlu dikembangkan dengan menekankan kemampuan berpikir kritis dan bernalar.
Minggu, 30 September 2012
Tawuran Pelajar
Masih segar berita atas kasus terbunuhnya Alawy siswa SMA 6 Jakarta
karena tawuran dengan SMA 70 Jakarta, kemarin sore muncul lagi kasus
yang sama dan memakan korban terbunuhnya Deni Januar siswa SMA Yayasan
Karya 66 karena tawuran dengan SMK Kartika Zeni. Sungguh sangat ironi
kasus tawuran pelajar yang kembali terjadi di kawasan Manggarai -
Jakarta Selatan ini. Karena semua pihak sedang
berusaha mencari jalan keluar penyelesaian dan antisipasi agar kasus
serupa tidak akan terjadi lagi, tanpa diduga muncul kasus yang sama.
MasyaAllah.
Sesuai dengan data statistik yang saya lihat di sebuah siaran
televisi swasta nasional, dalam tahun 2012 sampai dengan bulan
September ini saja setidaknya sudah memakan korban tewas 30 orang siswa
karena tawuran antar pelajar. Sungguh sangat memprihatinkan sekali
kondisi para siswa kita.
Memang kasus tawuran antar pelajar di Ibu Kota Jakarta ini selalu
saja mewarnai dinamika kehidupan metropolitan setiap tahunnya. Jadi
rupanya sudah menjadi tradisi karena dari tahun ke tahun selalu saja ada
dan tidak pernah teratasi masalah tersebut. Lalu siapa atau apa yang
salah dengan tawuran pelajar di Jakarta?
Banyak para ahli mencari akar masalah terjadinya tawuran pelajar yang
tidak pernah berakhir ini. Masing-masing ahli pun memberikan solusi
atau jalan keluar terbaik untuk mengatasi masalah tawuran pelajar ini.
Di antaranya ada yang mengatakan bahwa kurikulum sekolah terlalu berat
sehingga para siswa merasa terbebani dan akhirnya mencari pelampiasan di
luar sekolah.
Saya bukan seorang yang ahli di bidang pendidikan, tetapi saya merasa
prihatin atas kejadian yang selalu saja terulang ini. Barangkali kalau
kita mau jujur menurut saya ini merupakan indikasi bahwa betapa rapuhnya
institusi kehidupan keluarga kita. Hal ini karena usia anak sekolah
atau pelajar sebenarnya sepenuhnya masih menjadi tanggung jawab dan
pengawasan orang tuanya. Orang tua bertanggung jawab mengawasi setiap
sikap dan tingkah laku anaknya. Dengan siapa dia berteman? Bagaimana
model pertemanannya? Kapan waktu yang diperbolehkan bermain? Kapan waktu
yang harus dipergunakan untuk belajar? Jam berapa berangkat sekolah,
jam berapa pulang sekolah? Jam berapa sampai di rumah? dan seterusnya
ini semua harus disadari oleh setiap orang tua yang mempunyai anak usia
sekolah. Sekali lagi, pengawasan seperti itu sepenuhnya menjadi tanggung
jawab orang tua.
Apabila fungsi pengawasan orang tua terhadap anak-anaknya yang masih
dalam usia sekolah kendor atau bahkan tidak mau peduli sama sekali,
sudah dapat dipastikan bahwa anak kita akan mencari jalan sesuai
seleranya sendiri. Ironinya jalan yang sering diambil oleh anak-anak
usia sekolah biasanya hal-hal yang bertentangan dengan norma dan aturan
hidup yang baku. Pada akhirnya nasihat orang tua dianggap tidak berguna
dan mereka lebih mendengarkan nasihat teman sebayanya.
Orang tua biasanya berdalih karena sibuk mencari nafkah sehingga
tidak sempat memperhatikan pendidikan anaknya. Dalam hal demikian saya
pun maklum, memang kita dituntut memenuhi kebutuhan hidup keluarga kita.
Namun satu hal yang tidak boleh kita lalaikan yaitu masalah pendidikan
anak-anak kita. Kita sebagai orang tua harus sadar bahwa anak adalah
amanah atau titipan Allah yang harus kita didik, kita bina, kita asuh
dan seterusnya agar menjadi anak yang berbakti pada orang tua dan
berguna bagi agamanya, nusa dan bangsa.
kalau sudah seperti ini, siapa yang salah !! apakah ini karakter dari dunia pendidikan kita ??
Jumat, 28 September 2012
CONTOH LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN KARAKTER
1.
PENDAHULUAN
Berdasarkan
Standar Proses, pada kegiatan pendahuluan, guru
- Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;
- Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari;
- Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai;
- Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.
Contoh
alternatif :
- Guru datang tepat waktu (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin)
- Guru mengucapkan salam dengan ramah kepada siswa ketika memasuki ruang kelas (contoh nilai yang ditanamkan: santun, peduli)
- Berdoa sebelum membuka pelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: religius)
- Mengecek kehadiran siswa (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin, rajin)
- Mendoakan siswa yang tidak hadir karena sakit atau karena halangan lainnya (contoh nilai yang ditanamkan: religius, peduli)
- Memastikan bahwa setiap siswa datang tepat waktu (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin)
- Menegur siswa yang terlambat dengan sopan (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin, santun, peduli)
- Mengaitkan materi/kompetensi yang akan dipelajari dengan karakter
i.
Dengan merujuk pada silabus, RPP, dan bahan
ajar, menyampaikan butir karakter yang hendak dikembangkan selain yang terkait
dengan SK/KD
2.
KEGIATAN INTI
Sesuai
permen 41 tahun 2007 Pembelajatan melalui 3 tahapan yakni :
a. Eksplorasi (peserta didik difasilitasi
untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dan mengembangkan sikap melalui
kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa)
- Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber (contoh nilai yang ditanamkan: mandiri, berfikir logis, kreatif, kerjasama)
- Menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain (contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, kerja keras)
- Memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya (contoh nilai yang ditanamkan: kerjasama, saling menghargai, peduli lingkungan)
- Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: rasa percaya diri, mandiri)
- Memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan (contoh nilai yang ditanamkan: mandiri, kerjasama, kerja keras)
b. Elaborasi
(peserta didik diberi peluang untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan
serta sikap lebih
lanjut melalui sumber-sumber
dan kegiatan-kegiatan pembelajaran lainnya sehingga pengetahuan,
keterampilan, dan sikap peserta didik lebih luas dan dalam.)
- Membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas- tugas tertentu yang bermakna (contoh nilai yang ditanamkan: cinta ilmu, kreatif, logis)
- Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis (contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, percaya diri, kritis, saling menghargai, santun)
- Memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut (contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, percaya diri, kritis)
- Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif (contoh nilai yang ditanamkan: kerjasama, saling menghargai, tanggung jawab)
- Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar (contoh nilai yang ditanamkan: jujur, disiplin, kerja keras, menghargai)
- Memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok (contoh nilai yang ditanamkan: jujur, bertanggung jawab, percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)
- Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)
- Memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)
- Memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)
c. Konfirmasi (peserta
didik memperoleh umpan
balik atas kebenaran,
kelayakan, atau keberterimaan
dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh oleh siswa)
- Memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik (contoh nilai yang ditanamkan: saling menghargai, percaya diri, santun, kritis, logis)
- Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, logis, kritis)
- Memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan (contoh nilai yang ditanamkan: memahami kelebihan dan kekurangan)
- Memfasilitasi peserta didik untuk lebih jauh/dalam/luas memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap, antara lain dengan guru:
a. Berfungsi
sebagai narasumber dan
fasilitator dalam menjawab
pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan
bahasa yang baku dan benar (contoh nilai yang ditanamkan: peduli, santun);
b. Membantu menyelesaikan masalah (contoh nilai
yang ditanamkan: peduli);
c. Memberi acuan agar peserta didik dapat
melakukan pengecekan hasil eksplorasi (contoh nilai yang ditanamkan: kritis);
d. Memberi
informasi untuk bereksplorasi lebih
jauh (contoh nilai
yang ditanamkan: cinta ilmu); dan
e. Memberikan
motivasi kepada peserta
didik yang kurang
atau belum berpartisipasi aktif
(contoh nilai yang ditanamkan: peduli, percaya diri).
3. PENUTUP
Dalam
kegiatan penutup, guru:
a.Bersama-sama dengan peserta didik dan/atau
sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran (contoh nilai yang ditanamkan:
mandiri, kerjasama, kritis, logis);
b. Melakukan
penilaian dan/atau refleksi
terhadap kegiatan yang
sudah dilaksanakan secara
konsisten dan terprogram (contoh nilai yang ditanamkan: jujur, mengetahui
kelebihan dan kekurangan);
c. Memberikan umpan balik terhadap proses dan
hasil pembelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: saling menghargai, percaya
diri, santun, kritis, logis);
d. Merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam
bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau
memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil
belajar peserta didik; dan
e. Menyampaikan rencana pembelajaran pada
pertemuan berikutnya.
Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan agar internalisasi nilai-nilai terjadi
dengan lebih intensif selama tahap penutup.
- Selain simpulan yang terkait dengan aspek pengetahuan, agar peserta didik difasilitasi membuat pelajaran moral yang berharga yang dipetik dari pengetahuan/keterampilan dan/atau proses pembelajaran yang telah dilaluinya untuk memperoleh pengetahuan dan/atau keterampilan pada pelajaran tersebut.
- Penilaian tidak hanya mengukur pencapaian siswa dalam pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga pada perkembangan karakter mereka.
- Umpan balik baik yang terkait dengan produk maupun proses, harus menyangkut baik kompetensi maupun karakter, dan dimulai dengan aspek-aspek positif yang ditunjukkan oleh siswa.
- Karya-karya siswa dipajang untuk mengembangkan sikap saling menghargai karya orang lain dan rasa percaya diri.
- Kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok diberikan dalam rangka tidak hanya terkait dengan pengembangan kemampuan intelektual, tetapi juga kepribadian.
f.
Berdoa pada akhir pelajaran.
Faktor
lain yang perlu diperhatikan:
- Guru harus merupakan seorang model dalam karakter. Dari awal hingga akhir pelajaran, tutur kata, sikap, dan perbuatan guru harus merupakan cerminan dari nilai- nilai karakter yang hendak ditanamkannya.
- Guru harus memberikan reward kepada siswa yang menunjukkan karakter yang dikehendaki dan pemberian punishment kepada mereka yang berperilaku dengan karakter yang tidak dikehendaki. Reward dan punishment yang dimaksud dapat berupa ungkapan verbal dan non verbal, kartu ucapan selamat (misalnya classroom award) atau catatan peringatan, dan sebagainya. Untuk itu guru harus menjadi pengamat yang baik bagi setiap siswanya selama proses pembelajaran.
- Hindari mengolok-olok siswa yang datang terlambat atau menjawab pertanyaan dan/atau berpendapat kurang tepat/relevan. Pada sejumlah sekolah ada kebiasaan diucapkan ungkapan Hoo … oleh siswa secara serempak saat ada teman mereka yang terlambat dan/atau menjawab pertanyaan atau bergagasan kurang berterima. Kebiasaan tersebut harus dijauhi untuk menumbuhkembangkan sikap bertanggung jawab, empati, kritis, kreatif, inovatif, rasa percaya diri, dan sebagainya.
- Guru memberi umpan balik dan/atau penilaian kepada siswa, guru harus mulai dari aspek-aspek positif atau sisi-sisi yang telah kuat/baik pada pendapat, karya, dan/atau sikap siswa.
- Guru menunjukkan kekurangan-kekurangannya dengan ‘hati’. Dengan cara ini sikap-sikap saling menghargai dan menghormati, kritis, kreatif, percaya diri, santun, dan sebagainya akan tumbuh subur.
Kamis, 27 September 2012
Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah / Madrasah
Tawuran antar pelajar, mencontek, bolos sekolah, dan berbagai hal negatif
lainnya yang terjadi di dunia pendidikan semakin sering terjadi. Peristiwa ini
menyedihkan dan membuat khawatir orang tua juga guru di sekolah. Oleh karena
itu, diperlukan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada sisi kognitif tetapi
juga pengembangan sikap yang baik. Pemerintah memberi solusi dengan
mencanangkan pendidikan karakter yang berbasis agama dan akhlak mulia.
Akhir-akhir ini pendidikan karakter sedang marak diperbincangkan oleh para
pendidik di negeri ini. Mengingat banyak peristiwa terjadi di dunia pendidikan
yang mencoreng dan mengganggu nama baik institusi pendidikan di Indonesia.
Sebetulnya apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter?
Pendidikan merupakan sebuah proses menyatunya nilai-nilai budaya pada diri
seseorang sehingga dia menjadi manusia yang lebih baik dan berbudaya. Dalam
proses pendidikan tersebut, guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan yang
dimilikinya tetapi lebih dari itu harus pula membentuk muridnya agar menjadi manusia
yang memiliki karakter baik dan berguna bagi masyarakat dan lingkungan
sekitarnya.
Menurut Suyanto dalam kemdiknas.go.id menyatakan “Karakter adalah cara
berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan
bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.”
Individu yang berkarakter baik adalah individu yang memiliki watak bermartabat
sehingga mampu menampilkan ciri khas pribadi yang dapat menjadi panutan bagi
orang lain.
Pendidikan karakter adalah langkah terencana untuk membentuk pribadi
peserta didik agar mengenal, peduli, dan memadukan nilai-nilai baik dalam
pembelajaran di sekolah pada setiap aspek yang ada di sekolah. Nilai-nilai baik
tersebut harus melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang akan
berguna bagi kehidupan siswa di kemudian hari.
Pendidikan karakter dalam pelaksanaannya memerlukan dukungan dari berbagai
pihak, tidak hanya dari guru dan pihak sekolah tetapi juga keluarga serta
lingkungan masyarakat sekitar siswa agar terjadi lingkaran komunitas yang
bersinergi dan menghasilkan tatanan masyarakat yang madani.
Beberapa daerah telah mengaplikasikan pendidikan karakter dalam kegiatan
belajar mengajar di sekolah. Palangkaraya, contohnya, akan mulai menerapkan
program pendidikan karakter mulai tahun ajaran 2012. Diharapkan dengan adanya
penerapan pendidikan karakter ini dapat meminimalisir bahkan mencegah
meningkatnya perilaku kenakalan remaja di kalangan pelajar.
Dalam pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah, ada dua mata pelajaran
yang dapat langsung mengimplementasikannya pada materi ajar terkait dengan
pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia, yakni pendidikan agama dan PKn.
Selain dua pelajaran tersebut, pelajaran lain lebih pada internalisasi
nilai-nilai dalam tingkah laku sehari-hari melalui proses pembelajaran
(kegiatan belajar mengajar dan penilaian).
Ada delapan
hal yang menjadi pokok dalam pendidikan karakter, yaitu:
1. Kereligiusan
2. Kejujuran
3. Kecerdasan
4. Tanggung jawab
5. Kebersihan dan kesehatan
6. Kedisiplinan
7. Tolong menolong
8. Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif
1. Kereligiusan
2. Kejujuran
3. Kecerdasan
4. Tanggung jawab
5. Kebersihan dan kesehatan
6. Kedisiplinan
7. Tolong menolong
8. Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif
Pelaksanaan pendidikan karakter baik melalui proses pembelajaran, kegiatan
pembinaan kesiswaan, maupun pengelolaan sekolah perlu dimonitor dan dievaluasi
agar kesesuaian antara tujuan dan penerapan dapat terpantau dengan baik serta
hambatan-hambatan yang dihadapi dapat dicari solusi dalam masalah yang
dihadapi.
7 Cara Hidup Sehat Mudah dan Alami
Bagaimana cara hidup sehat
yang alami untuk mencegah penyakit tanpa obat-obatan? Langkah-langkah
gaya hidup sehat bisa Anda lakukan dengan beberapa cara mudah dan murah.
Kualitas hidup pun akan lebih baik dengan raga dan jiwa yang sehat.
Berikut ini ketujuh cara untuk hidup sehat:
Berikut ini ketujuh cara untuk hidup sehat:
- Udara bersih, paru-paru pun sehat
Hiruplah udara yang bersih dan sehat, maka Anda terhindar dari gangguan pernapasan. Udara pagi adalah sangat baik untuk paru-paru Anda, tanpa repot mencari udara pegunungan. Sempatkanlah diri keluar rumah sebelum berangkat beraktifitas untuk mengatur pernapasan menghirup udara sejuk. Ketika berada di luar, sebisa mungkin menjauhlah dari udara tercemar seperti asap kendaraan atau debu dan asap rokok. Perabot rumah, kipas angin atau AC di rumah dan ruangan kerja Anda juga jangan lupa untuk rutin dibersihkan. - Banyak minum air putih
Dibanding minuman apapun, air putih lah yang terbaik. Seperti anjuran pada umumnya, per hari minimal minumlah air putih 8-9 gelas. Fungsi ginjal dan saluran kemih pun terbantu kelancarannya dengan meminum air putih. Di siang hari, minumlah air sejuk (bukan air es) dan air hangat di malam hari. Anda juga bisa menambahkan air jeruk lemon atau jeruk nipis. Minuman ini berguna mengeluarkan toksin dari dalam tubuh, selain menyegarkan diri. - Konsumsi menu bergizi dan seimbang
Pilihlah menu dengan gizi yang cukup, seimbang, dan bervariasi. Tubuh membutuhkan serat, sehingga Anda perlu mengkonsumsi sayuran hijau dan buah yang mengandung banyak serat dan gizi. Makanan olahan dan junk food, sebaiknya Anda hindari. Garam dan gula pun harus dikurangi asupannya. Yang tidak kalah penting adalah sarapan pagi ! Aktifitas sepanjang hari akan ditunjang oleh sarapan pagi sehingga jika Anda mengabaikannya maka tubuh menjadi tidak siap menjalani kegiatan. - Seimbangkan antara kerja, olahraga dan istirahat
Kerja keras tanpa istirahat sama sekali tidak ada untungnya bagi Anda. Biasakan istirahat teratur 7-8 jam pada malam hari, dan jangan sering begadang atau tidur terlalu malam. Berolahraga tidak harus memakan waktu. Anda bisa berolahraga ringan atau sekedar melemaskan otot persendian di waktu senggang. Untuk kebugaran dan stamina tubuh, berolahraga 2 - 3 kali per minggu, selama 30 - 45 menit, sudah cukup membantu. - Kontrol kerja otak
Sama seperti tubuh, otak pun perlu istirahat. Beban terlalu banyak yang otak terima akan membuat otak bekerja keras sedangkan waktu isitirahatnya tidak seimbang. Cara menyegarkan otak yang lelah setelah banyak berpikir, bisa Anda lakukan dengan menjalani hobi yang Anda senangi di waktu senggang. Membaca novel, melukis, atau mendengarkan musik akan membuat kerja otak lebih santai. - Jalani hidup secara harmonis
Jika ingin tetap sehat, manusia sebagai mikrokosmos harus mematuhi alam yang sebagai makrokosmos. Kuncinya adalah gunakan akal sehat. Jangan mengorbankan hidup dengan menuruti kesenangan diri lewat kebiasaan hidup yang buruk dan beresiko. Meminum minum-minuman keras, merokok atau menggunakan obat-obatan terlarang hanya akan menyiksa tubuh Anda. Perkecil resiko terjadinya stres emosional atau psikis dengan menjalani hidup secara harmonis. - Gunakan suplemen gizi
Suplemen hanya boleh Anda minum jika tubuh memerlukannya. Tetaplah utamakan mengkonsumsi makanan segar dan sehat. Jenis suplemen makanan memang bermanfaat membantu tubuh meningkatkan kesehatan, namun jangan berlebihan. Tubuh kita memerlukan antioksidan (beta-karoten), vitamin C, vitamin E, dan selenium. Anda bisa mendapatkan semua zat itu dalam makanan sehat yang alami dan tidak mahal.
Dengan menjalani tips diatas, Anda pasti akan mendapatkan banyak manfaat hidup sehat. Ayo, ClubOn, jalani ketujuh trik diatas untuk kesehatan Anda! Atau Anda punya cara hidup sehat lainnya? silakan berbagi disini.
Rabu, 26 September 2012
Pendidikan Karakter
PENDIDIKAN KARAKTER
Akhir-akhir ini sering kita lihat, dengarkan, saksikan
baik lewat media elektronik ataupun yang lainya sebuah fenomena yang sangat
luar biasa. Disana sini terdapat tawuran pelajar yang berakibat kematian,
demontrasi mahasiswa yang berakhir dengan tindakan anarkis, beberapa pejabat negara
yang tersandung kasus korupsi tak kalah hebohnya lagi dikalangan anggota dewan
terhomat. Yang kita tahu semua dari mereka adalah orang-orang yang terdidik dan
mapan dari segi ekonominya. Lalu apa yang salah dengan pendidikan kita ?. Pendidikanya
yang salah, apa sistemnya yang salah, apa kurikulumnya yang salah atau bahkan
individunya yang salah ?
Berakar dari masalah itu, maka pada Tanggal 02 Mei 2010 dicanangkanlah
Pendidikan Karakter oleh Presiden Ripublik Indinesia tercinta ini. Bukan hanya
pencanangan saja akan tetapi juga diikuti dengan dikeluarkannya Kebijakan
Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025, Grand Design Pendidikan
Karakter, Rencana Aksi Nasional Pendidikan Karakter, Kerangka Acuan Pendidikan
Karakter, Pedoman Pengembangan Pendidkan Budaya dan Karakter Bangsa dan masih
banyak yang lainya.
Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, kami ingin mengajak semua
pembaca untuk ikut ambil bagian dalam proses pendidikan di Indonesia, mungkin
akan sangat membosankan bagi Anda semua, tetapi jika bukan kita yang
membangkitkan dunia pendidikan kita sendiri, siapa lagi ?, kita tidak bisa
selamanya mengharapkan agar pemerintah yang selalu turun tangan dalam urusan
ini. Jika segala usaha telah dilakukan pemerintah, namun sebagai masyarakat
kita tidak berbuat apa-apa sama saja tidak ada artinya.
A.
Pengertian Pendidikan Karakter
Secara bahasa, karakter dapat pula dipahami sebagai
sifat dasar, kepribadian, perilaku/tingkah laku, dan kebiasaan yang berpola.
Perspektif pendidikan karakter adalah peranan pendidikan dalam membangun
karakter peserta didik. Pendidikan Karakter adalah upaya penyiapan kekayaan
batin peserta didik yang berdimensi agama, sosial, budaya, yang mampu
diwujudkan dalam bentuk budi pekerti, baik dalam perbuatan, perkataan, pikiran,
sikap, perasaan, dan kepribadian. Namun dengan adanya Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP), guru-guru memiliki peluang besar untuk menerapkan
pendidikan karakter ke dalam masing-masing satuan pendidikan, karena :
Pertama, KTSP didefinisikan sebagai kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan peserta didikan dimasing-masing satuan pendidikan.
Kedua, Tujuan kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikutui pendidikan lebih lanjut.
Ketiga, Konsep pendidikan karakter terbaca dalam rumusan yang telah dibuat oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yaitu : Pendidikan yang mengintegrasikan semua potensi peserta didik didik, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Pendidikan karakter yang diterapkan dalam satuan pendidikan kita bias menjadi salah satu sarana pembudayaan dan pemanusian.
Menurut Foerster ada empat cirri dasar dalam pendidikan karakter :
- Keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan.
- Koherensi yang member keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain.
- Otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain.
- Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. ”Orang-orang modern sering mencampur adukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior daninterior. ”
- Karakter inilah yang menentukan norma seorang pribadi dalam segala tindakannya.
B. Tujuan Pendidikan Karakter
Tujuan pendidikan adalah untuk
pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subjek
dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Bagi Foerster, karakter
merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi
identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari
kematangan karakter inilah, kualitas seorang pribadi diukur.
Tujuan Pendidikan Karakter meliputi :
- Mendorong kebiasaan dan perilaku yang terpuji sejalan dengan nilai-nilai universal, tradisi budaya, kesepaatan sosial dan religiositas agama.
- Menanamkan jiwa kepemimpinan yang bertanggung jawab sebagai penerus bangsa.
- Memupuk kepekaan mental peserta didik terhadap situasi sekitarnya, sehingga tidak terjerumus ke dalam perilaku yang menyimpang, baik secara individu maupun sosial.
- Meningkatkan kemampuan menghindari sifat tercela yang dapat merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
- Agar siswa memahami dan menghayati nilai-nilai yang relevan bagi pertumbuhan dan pengahargaan harkat dan martabat manusia.
C. Nilai-Nilai
Pendidikan Karakter
Nilai-nilai di bawah ini merupakan uraian berbagai perilaku dasar dan sikap yang diharapkan dimiliki peserta didik sebagai dasar pembentukan karakternya yakni: nilai keutamaan, nilai kerja, nilai cinta tanah air (patriotisme), nilai demokrasi, nilai kesatuan, menghidupi nilai moral, nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai di atas diambil sebagai garis besarnya saja, sifatnya terbuka,artinya masih bisa ditambahkan nilai-nilai lain yang relevan dengan situasi sekolah. Misalnya: taqwa kepada Tuhan, tanggung jawab, disiplin, mandiri, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli dan kerja sama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan persatuan, dapat dipercaya,rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab, kewarganegaraan/citizenship, ketulusan, berani, tekun, integritas, jujur, tanggung jawab, disiplin, visioner, adil, peduli, kerjasama..
D. Prinsip Pelaksanaan
Pendidikan karakter
Pendidikan karakter di sekolah memerlukan
prinsip-prinsip dasar yang mudah dimengerti dan dipahami oleh siswa dan setiap
individu yang bekerja di sekolah tersebut. Prinsip-prinsip tersebut antara lain
:
- Karaktermu ditentukan oleh apa yang kamu lakukan, bukan apa yang kamu katakan atau kamu yakini.
- Setiap keputusan yang kamu ambil menentukan akan menjadi orang macam apa dirimu.
- Karakter yang baik mengandaikan bahwa hal yang baik itu dilakukan dengan cara-cara yang baik, bahkan seandainya pun kamu harus membayarnya secara mahal, sebab mengandung resiko.
- Jangan pernah mengambil perilaku buruk yang dilakukan oleh orang lain sebagai patokan bagi dirimu. Kamu dapat memilih patokan yang lebih baik dari mereka.
- Apa yang kamu lakukan itu memiliki makna dan transformatif. Seorang individu bisa mengubah dunia.
- Bayaran bagi mereka yang memiliki karakter baik adalah bahwa kamu menjadi pribadi yang lebih baik, dan ini akan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk dihuni.
E. Strategi dan
Metodologi Pendidikan Karakter
Strategi yang diterapkan oleh pendidikan karakter yaitu dengan menggunakan strategi terintegrasi dalam mata pelajaran lainnya. Nilai-nilai karakter dapat disampaikan melalui mata pelajaran: agama, pendidikan kewarganegaraan (PKn), pendidikan jasmani dan olah raga, IPS, bahasa Indonesia dan pengembangan diri. Pendidikan karakter di sekolah lebih banyak berurusan dengan penanaman nilai. Pendidikan karakter agar dapat disebut sebagai integral dan utuh harus menentukanmetode yang dipakai, sehingga tujuan pendidikan karakter itu akansemakin terarah dan efektif. Adapun unsur-unsur yag harus dipertimbangkan dalam menentukan metode yang dapat diterapkan dalam pendidikan karakter antara lain :
Mengajar, yaitu dengan cara mengajarkan nilai-nilai itu sehingga peserta didik memiliki gagasan konseptual tentang nilai-nilai pemandu perilaku yang bias dikembangkan dalam mengembangkan karakter pribadinya. Keteladanan, yaitu suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru, kepalasekolah, dan staf administrasi disekolah yang dapat dijadikan sebagai model teladan bagi siswa.Karena siswa akan lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat.
Menentukan prioritas, yaitu setiap yang terlibat dalam sebuah lembaga pendidikan yang ingin menekankan pendidikan karakter juga harus memahami secara jernih prioritas nilai apakah yang ingin ditekankan dalam pendidikan karakter dalam satuan pendidikan tertentu.
Refleksi, yaitu mengadakan semacam pendalaman, refleksi untuk melihat sejauh mana satuan pendidikan telah berhasil atau gagal dalam melaksanakan pendidikankarakter. Metode-metode yang bisa diterapkan dalam pendidikan karakter misalnya dengan menggunakan pendekatan penanaman nilai (InculcationApproach), perkembangan moral kognitif, analisis nilai (Values Analysis Approach), klarifikasi nilai, pembelajaran berbuat (ActionLearning Approach), Student Active Learning, Developmentally Appropriate Pro Contextual Learning yang dapat menciptakan pengalaman belajar yang efektif dan menyenangkan.
F. Penilaian Pendidikan Karakter
Penilaian adalah suatu usaha untuk memperoleh berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil pertumbuhan serta perkembangan karakter yang dicapai siswa. Tujuan penilaian dilakukan untuk mengukur seberapa jauh nilai-nilai yang dirumuskan sebagai standar minimal telah dikembangkan dan ditanamkan di sekolah serta dihayati, diamalkan, diterapkan dan dipertahankan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Penilaian pendidikan karakter lebih dititik beratkan kepada keberhasilan
penerimaan nilai-nilai dalam sikap dan perilaku peserta didik sesuai dengan
nilai-nilai karakter yangditerapkan dan diamalkan dalam kehidupan
sehari-hari. Jenis penilaian dapat berbentuk penilaian sikap dan perilaku, baik
individu maupun kelompok. Cara penilaian pendidikan karakter pada peserta didik
dilakukan oleh semua guru. Penilaian dilakukan setiap saat, baik pada jam
pelajaran maupun di luar jam pelajaran, dikelas maupun di luar kelas dengan
cara pengamatan dan pencatatan. Instrumen penilaian dapat berupa lemabar
observasi, lembar skala sikap, lembar portofolio, lembar check list, dan lembar
pedoman wawancara. Informasi yang diperoleh dari berbagai teknik penilaian
kemudian dianalisis oleh guru untuk memperoleh gambaran tentang karakter
peserta didik. Gambaran menyeluruh tersebut kemudian dilaporkan sebagai
suplemen buku rapor oleh wali kelas.
Peningkatkan Mutu Pendidikan Karakter Di Jenjang
Pendidikan
Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Menurut UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 13 Ayat 1 menyebutkan bahwa Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.
Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan informal sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan. Peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah hanya sekitar 7 jam per hari, atau kurang dari 30%. Selebihnya (70%), peserta didik berada dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Jika dilihat dari aspek kuantitas waktu, pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sebesar 30% terhadap hasil pendidikan peserta didik. Selama ini, pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta didik.
Kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif
tinggi, kurangnya pemahaman orang tua dalam mendidik anak dilingkungan
keluarga, pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar, dan pengaruh media
elektronik ditengarai bisa berpengaruh negatif terhadap perkembangan dan
pencapaian hasil belajar peserta didik. Salah satu alternatif untuk mengatasi
permasalahan tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu, yaitu
memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga
dengan pendidikan formal di sekolah. Dalam hal ini, waktu belajar peserta didik
di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar dapat
dicapai, terutama dalam pembentukan karakter peserta didik.
Langganan:
Postingan (Atom)