Minggu, 30 September 2012

Tawuran Pelajar

Masih segar berita atas  kasus terbunuhnya Alawy siswa SMA 6 Jakarta karena tawuran dengan SMA 70 Jakarta, kemarin sore  muncul lagi kasus yang sama dan memakan korban terbunuhnya Deni Januar siswa SMA Yayasan Karya 66 karena tawuran dengan SMK Kartika Zeni. Sungguh sangat ironi kasus tawuran pelajar yang  kembali terjadi di kawasan Manggarai - Jakarta Selatan ini. Karena semua pihak sedang berusaha mencari jalan keluar penyelesaian dan antisipasi agar kasus serupa tidak akan terjadi lagi, tanpa diduga muncul kasus yang sama. MasyaAllah.

Sesuai dengan data statistik yang saya lihat di sebuah siaran televisi swasta nasional, dalam tahun 2012  sampai dengan bulan September ini saja setidaknya sudah memakan korban tewas 30 orang siswa karena tawuran antar pelajar. Sungguh sangat memprihatinkan sekali kondisi para siswa kita.
Memang kasus tawuran antar pelajar di Ibu Kota Jakarta ini selalu saja mewarnai dinamika kehidupan metropolitan setiap tahunnya. Jadi rupanya sudah menjadi tradisi karena dari tahun ke tahun selalu saja ada dan tidak pernah teratasi masalah tersebut. Lalu siapa atau apa yang salah dengan tawuran pelajar di Jakarta?

Banyak para ahli mencari akar masalah terjadinya tawuran pelajar yang tidak pernah berakhir ini. Masing-masing ahli pun memberikan solusi atau jalan keluar terbaik untuk mengatasi masalah tawuran pelajar ini. Di antaranya ada yang mengatakan bahwa kurikulum sekolah terlalu berat sehingga para siswa merasa terbebani dan akhirnya mencari pelampiasan di luar sekolah.

Saya bukan seorang yang ahli di bidang pendidikan, tetapi saya merasa prihatin atas kejadian yang selalu saja terulang ini. Barangkali kalau kita mau jujur menurut saya ini merupakan indikasi bahwa betapa rapuhnya institusi kehidupan keluarga kita. Hal ini karena usia anak sekolah atau pelajar sebenarnya sepenuhnya masih menjadi tanggung jawab dan pengawasan orang tuanya. Orang tua bertanggung jawab mengawasi setiap sikap dan tingkah laku anaknya. Dengan siapa dia berteman? Bagaimana model pertemanannya? Kapan waktu yang diperbolehkan bermain? Kapan waktu yang harus dipergunakan untuk belajar? Jam berapa berangkat sekolah, jam berapa pulang sekolah? Jam berapa sampai di rumah? dan seterusnya ini semua harus disadari oleh setiap orang tua yang mempunyai anak usia sekolah. Sekali lagi, pengawasan seperti itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua.

Apabila fungsi pengawasan orang tua terhadap anak-anaknya yang masih dalam usia sekolah kendor atau bahkan tidak mau peduli sama sekali, sudah dapat dipastikan bahwa anak kita akan mencari jalan sesuai seleranya sendiri. Ironinya jalan yang sering diambil oleh anak-anak usia sekolah biasanya hal-hal yang bertentangan dengan norma dan aturan hidup yang baku. Pada akhirnya nasihat orang tua dianggap tidak berguna dan mereka lebih mendengarkan nasihat teman sebayanya.

Orang tua biasanya berdalih karena sibuk mencari nafkah sehingga tidak sempat memperhatikan pendidikan anaknya. Dalam hal demikian saya pun maklum, memang kita dituntut memenuhi kebutuhan hidup keluarga kita. Namun satu hal yang tidak boleh kita lalaikan yaitu masalah pendidikan anak-anak kita. Kita sebagai orang tua harus sadar bahwa anak adalah amanah atau titipan Allah yang harus kita didik, kita bina, kita asuh dan seterusnya agar menjadi anak yang berbakti pada orang tua dan berguna bagi agamanya, nusa dan bangsa.

kalau sudah seperti ini, siapa yang salah !! apakah ini karakter dari dunia pendidikan kita ??

Jumat, 28 September 2012

CONTOH LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN KARAKTER


 
1.  PENDAHULUAN
Berdasarkan Standar Proses, pada kegiatan pendahuluan, guru

  1. Menyiapkan peserta  didik secara psikis dan  fisik  untuk  mengikuti  proses pembelajaran;
  2. Mengajukan    pertanyaan-pertanyaan    yang    mengaitkan    pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari;
  3. Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai;
  4. Menyampaikan  cakupan  materi  dan  penjelasan  uraian  kegiatan  sesuai silabus.

Contoh alternatif :

  1. Guru datang tepat waktu (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin)
  2. Guru mengucapkan salam dengan ramah kepada siswa ketika memasuki ruang kelas (contoh nilai yang ditanamkan: santun, peduli)
  3. Berdoa sebelum membuka pelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: religius)
  4. Mengecek kehadiran siswa (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin, rajin)
  5. Mendoakan siswa yang tidak hadir karena sakit atau karena halangan lainnya (contoh nilai yang ditanamkan: religius, peduli)
  6. Memastikan  bahwa  setiap  siswa  datang  tepat  waktu  (contoh  nilai  yang ditanamkan: disiplin)
  7. Menegur siswa yang terlambat dengan sopan (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin, santun, peduli)
  8. Mengaitkan materi/kompetensi yang akan dipelajari dengan karakter
i.         Dengan merujuk pada silabus, RPP, dan bahan ajar, menyampaikan butir karakter yang hendak dikembangkan selain yang terkait dengan SK/KD

2.  KEGIATAN INTI
Sesuai permen 41 tahun 2007 Pembelajatan melalui 3 tahapan yakni :
a. Eksplorasi (peserta didik difasilitasi untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dan mengembangkan sikap melalui kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa)

  1. Melibatkan  peserta  didik  mencari  informasi  yang  luas  dan  dalam  tentang topik/tema materi yang dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber (contoh nilai yang ditanamkan: mandiri, berfikir logis, kreatif, kerjasama)
  2. Menggunakan  beragam  pendekatan  pembelajaran,  media  pembelajaran,  dan sumber belajar lain (contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, kerja keras)
  3. Memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik  serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya (contoh nilai yang ditanamkan: kerjasama, saling menghargai, peduli lingkungan)
  4. Melibatkan  peserta  didik  secara  aktif  dalam  setiap  kegiatan  pembelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: rasa percaya diri, mandiri)
  5. Memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan (contoh nilai yang ditanamkan: mandiri, kerjasama, kerja keras)
b.  Elaborasi (peserta didik diberi peluang untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan serta  sikap  lebih  lanjut  melalui  sumber-sumber  dan  kegiatan-kegiatan  pembelajaran lainnya sehingga pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik lebih luas dan dalam.)

  1. Membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas- tugas tertentu yang bermakna (contoh nilai yang ditanamkan: cinta ilmu, kreatif, logis)
  2. Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis (contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, percaya diri, kritis, saling menghargai, santun)
  3. Memberi  kesempatan  untuk  berpikir,  menganalisis,  menyelesaikan  masalah, dan bertindak tanpa rasa takut (contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, percaya diri, kritis)
  4. Memfasilitasi  peserta  didik  dalam  pembelajaran  kooperatif  dan  kolaboratif (contoh nilai yang ditanamkan: kerjasama, saling menghargai, tanggung jawab)
  5. Memfasilitasi  peserta  didik  berkompetisi  secara  sehat  untuk  meningkatkan prestasi   belajar   (contoh   nilai   yang   ditanamkan:   jujur,   disiplin,   kerja   keras, menghargai)
  6. Memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok (contoh nilai yang ditanamkan: jujur, bertanggung jawab, percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)
  7. Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)
  8. Memfasilitasi  peserta  didik  melakukan  pameran,  turnamen,  festival,  serta produk  yang  dihasilkan  (contoh  nilai  yang  ditanamkan:  percaya  diri,  saling menghargai, mandiri, kerjasama)
  9. Memfasilitasi  peserta  didik  melakukan  kegiatan  yang  menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)

c. Konfirmasi  (peserta  didik  memperoleh  umpan  balik  atas  kebenaran,  kelayakan,  atau keberterimaan dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh oleh siswa)

  1. Memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat,  maupun  hadiah  terhadap  keberhasilan  peserta  didik  (contoh  nilai  yang ditanamkan: saling menghargai, percaya diri, santun, kritis, logis)
  2. Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi  peserta didik melalui berbagai sumber (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, logis, kritis)
  3. Memfasilitasi  peserta didik melakukan refleksi  untuk  memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan (contoh nilai yang ditanamkan: memahami kelebihan dan kekurangan)
  4. Memfasilitasi  peserta  didik  untuk  lebih  jauh/dalam/luas  memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap, antara lain dengan guru:
a. Berfungsi  sebagai  narasumber  dan  fasilitator  dalam  menjawab  pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar (contoh nilai yang ditanamkan: peduli, santun);
b. Membantu menyelesaikan masalah (contoh nilai yang ditanamkan: peduli);
c.  Memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi (contoh nilai yang ditanamkan: kritis);
d.  Memberi   informasi   untuk   bereksplorasi   lebih   jauh   (contoh   nilai   yang ditanamkan: cinta ilmu); dan
e.  Memberikan   motivasi   kepada   peserta   didik   yang   kurang   atau   belum berpartisipasi aktif (contoh nilai yang ditanamkan: peduli, percaya diri).

3. PENUTUP
Dalam kegiatan penutup, guru:
a.Bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: mandiri, kerjasama, kritis, logis);
b.  Melakukan  penilaian  dan/atau  refleksi  terhadap  kegiatan  yang  sudah  dilaksanakan secara konsisten dan terprogram (contoh nilai yang ditanamkan: jujur, mengetahui kelebihan dan kekurangan);
c. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: saling menghargai, percaya diri, santun, kritis, logis);
d.  Merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik; dan
e.   Menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar internalisasi nilai-nilai terjadi dengan lebih intensif selama tahap penutup.

  1. Selain simpulan yang terkait dengan  aspek pengetahuan, agar peserta didik difasilitasi   membuat   pelajaran   moral   yang   berharga   yang   dipetik   dari pengetahuan/keterampilan dan/atau proses pembelajaran yang  telah dilaluinya untuk memperoleh pengetahuan dan/atau keterampilan pada pelajaran tersebut.
  2. Penilaian tidak hanya mengukur pencapaian siswa dalam pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga pada perkembangan karakter mereka.
  3. Umpan balik baik yang terkait dengan produk maupun proses, harus menyangkut baik kompetensi maupun karakter, dan dimulai dengan aspek-aspek positif yang ditunjukkan oleh siswa.
  4. Karya-karya siswa dipajang untuk mengembangkan sikap saling menghargai karya orang lain dan rasa percaya diri.
  5. Kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok diberikan dalam rangka tidak hanya terkait dengan pengembangan kemampuan intelektual, tetapi juga kepribadian.
f.        Berdoa pada akhir pelajaran.

Faktor lain yang perlu diperhatikan:

  1. Guru harus merupakan seorang model dalam karakter. Dari awal hingga akhir pelajaran, tutur kata, sikap, dan perbuatan guru harus merupakan cerminan dari nilai- nilai karakter yang hendak ditanamkannya.
  2. Guru harus memberikan reward kepada siswa yang menunjukkan karakter yang dikehendaki dan pemberian punishment kepada mereka yang berperilaku dengan karakter  yang  tidak  dikehendaki.  Reward  dan punishment  yang  dimaksud  dapat berupa ungkapan verbal dan non verbal, kartu ucapan selamat (misalnya classroom award) atau catatan peringatan, dan sebagainya. Untuk itu guru harus menjadi pengamat yang baik bagi setiap siswanya selama proses pembelajaran.
  3. Hindari mengolok-olok siswa yang datang terlambat atau menjawab pertanyaan dan/atau berpendapat kurang tepat/relevan. Pada sejumlah sekolah ada kebiasaan diucapkan ungkapan Hoo … oleh siswa secara serempak saat ada teman mereka yang terlambat dan/atau menjawab pertanyaan atau bergagasan kurang berterima. Kebiasaan tersebut harus dijauhi untuk menumbuhkembangkan sikap bertanggung jawab, empati, kritis, kreatif, inovatif, rasa percaya diri, dan sebagainya.
  4. Guru memberi umpan balik dan/atau penilaian kepada siswa, guru harus mulai dari aspek-aspek positif atau sisi-sisi yang telah kuat/baik pada pendapat, karya, dan/atau sikap siswa.
  5. Guru menunjukkan kekurangan-kekurangannya dengan ‘hati’. Dengan cara ini sikap-sikap saling menghargai dan menghormati, kritis, kreatif, percaya diri, santun, dan sebagainya akan tumbuh subur.

Kamis, 27 September 2012

Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah / Madrasah



Tawuran antar pelajar, mencontek, bolos sekolah, dan berbagai hal negatif lainnya yang terjadi di dunia pendidikan semakin sering terjadi. Peristiwa ini menyedihkan dan membuat khawatir orang tua juga guru di sekolah. Oleh karena itu, diperlukan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada sisi kognitif tetapi juga pengembangan sikap yang baik. Pemerintah memberi solusi dengan mencanangkan pendidikan karakter yang berbasis agama dan akhlak mulia.
Akhir-akhir ini pendidikan karakter sedang marak diperbincangkan oleh para pendidik di negeri ini. Mengingat banyak peristiwa terjadi di dunia pendidikan yang mencoreng dan mengganggu nama baik institusi pendidikan di Indonesia. Sebetulnya apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter?
Pendidikan merupakan sebuah proses menyatunya nilai-nilai budaya pada diri seseorang sehingga dia menjadi manusia yang lebih baik dan berbudaya. Dalam proses pendidikan tersebut, guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya tetapi lebih dari itu harus pula membentuk muridnya agar menjadi manusia yang memiliki karakter baik dan berguna bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
Menurut Suyanto dalam kemdiknas.go.id menyatakan “Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.” Individu yang berkarakter baik adalah individu yang memiliki watak bermartabat sehingga mampu menampilkan ciri khas pribadi yang dapat menjadi panutan bagi orang lain.
Pendidikan karakter adalah langkah terencana untuk membentuk pribadi peserta didik agar mengenal, peduli, dan memadukan nilai-nilai baik dalam pembelajaran di sekolah pada setiap aspek yang ada di sekolah. Nilai-nilai baik tersebut harus melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang akan berguna bagi kehidupan siswa di kemudian hari.
Pendidikan karakter dalam pelaksanaannya memerlukan dukungan dari berbagai pihak, tidak hanya dari guru dan pihak sekolah tetapi juga keluarga serta lingkungan masyarakat sekitar siswa agar terjadi lingkaran komunitas yang bersinergi dan menghasilkan tatanan masyarakat yang madani.
Beberapa daerah telah mengaplikasikan pendidikan karakter dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Palangkaraya, contohnya, akan mulai menerapkan program pendidikan karakter mulai tahun ajaran 2012. Diharapkan dengan adanya penerapan pendidikan karakter ini dapat meminimalisir bahkan mencegah meningkatnya perilaku kenakalan remaja di kalangan pelajar.
Dalam pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah, ada dua mata pelajaran yang dapat langsung mengimplementasikannya pada materi ajar terkait dengan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia, yakni pendidikan agama dan PKn. Selain dua pelajaran tersebut, pelajaran lain lebih pada internalisasi nilai-nilai dalam tingkah laku sehari-hari melalui proses pembelajaran (kegiatan belajar mengajar dan penilaian).
Ada delapan hal yang menjadi pokok dalam pendidikan karakter, yaitu:
1. Kereligiusan
2. Kejujuran
3. Kecerdasan
4. Tanggung jawab
5. Kebersihan dan kesehatan
6. Kedisiplinan
7. Tolong menolong
8. Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif
Pelaksanaan pendidikan karakter baik melalui proses pembelajaran, kegiatan pembinaan kesiswaan, maupun pengelolaan sekolah perlu dimonitor dan dievaluasi agar kesesuaian antara tujuan dan penerapan dapat terpantau dengan baik serta hambatan-hambatan yang dihadapi dapat dicari solusi dalam masalah yang dihadapi.

7 Cara Hidup Sehat Mudah dan Alami

Name:  carahidupsehat.jpg
Views: 998
Size:  9.4 KB

Bagaimana cara hidup sehat yang alami untuk mencegah penyakit tanpa obat-obatan? Langkah-langkah gaya hidup sehat bisa Anda lakukan dengan beberapa cara mudah dan murah. Kualitas hidup pun akan lebih baik dengan raga dan jiwa yang sehat.

Berikut ini ketujuh cara untuk hidup sehat:
  1. Udara bersih, paru-paru pun sehat
    Hiruplah udara yang bersih dan sehat, maka Anda terhindar dari gangguan pernapasan. Udara pagi adalah sangat baik untuk paru-paru Anda, tanpa repot mencari udara pegunungan. Sempatkanlah diri keluar rumah sebelum berangkat beraktifitas untuk mengatur pernapasan menghirup udara sejuk. Ketika berada di luar, sebisa mungkin menjauhlah dari udara tercemar seperti asap kendaraan atau debu dan asap rokok. Perabot rumah, kipas angin atau AC di rumah dan ruangan kerja Anda juga jangan lupa untuk rutin dibersihkan.
  2. Banyak minum air putih
    Dibanding minuman apapun, air putih lah yang terbaik. Seperti anjuran pada umumnya, per hari minimal minumlah air putih 8-9 gelas. Fungsi ginjal dan saluran kemih pun terbantu kelancarannya dengan meminum air putih. Di siang hari, minumlah air sejuk (bukan air es) dan air hangat di malam hari. Anda juga bisa menambahkan air jeruk lemon atau jeruk nipis. Minuman ini berguna mengeluarkan toksin dari dalam tubuh, selain menyegarkan diri.
  3. Konsumsi menu bergizi dan seimbang
    Pilihlah menu dengan gizi yang cukup, seimbang, dan bervariasi. Tubuh membutuhkan serat, sehingga Anda perlu mengkonsumsi sayuran hijau dan buah yang mengandung banyak serat dan gizi. Makanan olahan dan junk food, sebaiknya Anda hindari. Garam dan gula pun harus dikurangi asupannya. Yang tidak kalah penting adalah sarapan pagi ! Aktifitas sepanjang hari akan ditunjang oleh sarapan pagi sehingga jika Anda mengabaikannya maka tubuh menjadi tidak siap menjalani kegiatan.
  4. Seimbangkan antara kerja, olahraga dan istirahat
    Kerja keras tanpa istirahat sama sekali tidak ada untungnya bagi Anda. Biasakan istirahat teratur 7-8 jam pada malam hari, dan jangan sering begadang atau tidur terlalu malam. Berolahraga tidak harus memakan waktu. Anda bisa berolahraga ringan atau sekedar melemaskan otot persendian di waktu senggang. Untuk kebugaran dan stamina tubuh, berolahraga 2 - 3 kali per minggu, selama 30 - 45 menit, sudah cukup membantu.
  5. Kontrol kerja otak
    Sama seperti tubuh, otak pun perlu istirahat. Beban terlalu banyak yang otak terima akan membuat otak bekerja keras sedangkan waktu isitirahatnya tidak seimbang. Cara menyegarkan otak yang lelah setelah banyak berpikir, bisa Anda lakukan dengan menjalani hobi yang Anda senangi di waktu senggang. Membaca novel, melukis, atau mendengarkan musik akan membuat kerja otak lebih santai.
  6. Jalani hidup secara harmonis
    Jika ingin tetap sehat, manusia sebagai mikrokosmos harus mematuhi alam yang sebagai makrokosmos. Kuncinya adalah gunakan akal sehat. Jangan mengorbankan hidup dengan menuruti kesenangan diri lewat kebiasaan hidup yang buruk dan beresiko. Meminum minum-minuman keras, merokok atau menggunakan obat-obatan terlarang hanya akan menyiksa tubuh Anda. Perkecil resiko terjadinya stres emosional atau psikis dengan menjalani hidup secara harmonis.
  7. Gunakan suplemen gizi
    Suplemen hanya boleh Anda minum jika tubuh memerlukannya. Tetaplah utamakan mengkonsumsi makanan segar dan sehat. Jenis suplemen makanan memang bermanfaat membantu tubuh meningkatkan kesehatan, namun jangan berlebihan. Tubuh kita memerlukan antioksidan (beta-karoten), vitamin C, vitamin E, dan selenium. Anda bisa mendapatkan semua zat itu dalam makanan sehat yang alami dan tidak mahal.

Dengan menjalani tips diatas, Anda pasti akan mendapatkan banyak manfaat hidup sehat. Ayo, ClubOn, jalani ketujuh trik diatas untuk kesehatan Anda! Atau Anda punya cara hidup sehat lainnya? silakan berbagi disini.

Rabu, 26 September 2012

Pendidikan Karakter



PENDIDIKAN KARAKTER

Akhir-akhir ini sering kita lihat, dengarkan, saksikan baik lewat media elektronik ataupun yang lainya sebuah fenomena yang sangat luar biasa. Disana sini terdapat tawuran pelajar yang berakibat kematian, demontrasi mahasiswa yang berakhir dengan tindakan anarkis, beberapa pejabat negara yang tersandung kasus korupsi tak kalah hebohnya lagi dikalangan anggota dewan terhomat. Yang kita tahu semua dari mereka adalah orang-orang yang terdidik dan mapan dari segi ekonominya. Lalu apa yang salah dengan pendidikan kita ?. Pendidikanya yang salah, apa sistemnya yang salah, apa kurikulumnya yang salah atau bahkan individunya yang salah ?

Berakar dari masalah itu, maka pada Tanggal 02 Mei 2010 dicanangkanlah Pendidikan Karakter oleh Presiden Ripublik Indinesia tercinta ini. Bukan hanya pencanangan saja akan tetapi juga diikuti dengan dikeluarkannya Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025, Grand Design Pendidikan Karakter, Rencana Aksi Nasional Pendidikan Karakter, Kerangka Acuan Pendidikan Karakter, Pedoman Pengembangan Pendidkan Budaya dan Karakter Bangsa dan masih banyak yang lainya.
Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, kami ingin mengajak semua pembaca untuk ikut ambil bagian dalam proses pendidikan di Indonesia, mungkin akan sangat membosankan bagi Anda semua, tetapi jika bukan kita yang membangkitkan dunia pendidikan kita sendiri, siapa lagi ?, kita tidak bisa selamanya mengharapkan agar pemerintah yang selalu turun tangan dalam urusan ini. Jika segala usaha telah dilakukan pemerintah, namun sebagai masyarakat kita tidak berbuat apa-apa sama saja tidak ada artinya.
A.       Pengertian Pendidikan Karakter
Secara bahasa, karakter dapat pula dipahami sebagai sifat dasar, kepribadian, perilaku/tingkah laku, dan kebiasaan yang berpola. Perspektif pendidikan karakter adalah peranan pendidikan dalam membangun karakter peserta didik. Pendidikan Karakter adalah upaya penyiapan kekayaan batin peserta didik yang berdimensi agama,  sosial, budaya, yang mampu diwujudkan dalam bentuk budi pekerti, baik dalam perbuatan, perkataan, pikiran, sikap, perasaan, dan kepribadian. Namun dengan adanya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru-guru memiliki peluang besar untuk menerapkan pendidikan karakter ke dalam masing-masing satuan pendidikan, karena :

Pertama, KTSP didefinisikan sebagai kurikulum operasional  yang disusun oleh dan dilaksanakan peserta didikan dimasing-masing satuan pendidikan.

Kedua, Tujuan kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan,  kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikutui pendidikan lebih lanjut.

Ketiga, Konsep pendidikan karakter terbaca dalam rumusan yang telah dibuat oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yaitu : Pendidikan yang mengintegrasikan semua potensi peserta didik didik, pengetahuan, kepribadian, akhlak  mulia serta keterampilan hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Pendidikan karakter  yang diterapkan dalam satuan pendidikan kita bias menjadi salah satu sarana pembudayaan dan pemanusian.

Menurut Foerster ada empat cirri dasar dalam pendidikan karakter :


  1. Keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan.
  2. Koherensi yang member keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain.
  3. Otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain.
  4. Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. ”Orang-orang modern sering mencampur adukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior daninterior. ” 
  5. Karakter inilah yang menentukan norma seorang pribadi dalam segala tindakannya.


B. Tujuan Pendidikan Karakter

Tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter  yang terwujud dalam kesatuan esensial si subjek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Bagi Foerster, karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi  seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah, kualitas seorang pribadi diukur.

Tujuan Pendidikan Karakter meliputi :

  1. Mendorong kebiasaan dan perilaku yang terpuji  sejalan dengan nilai-nilai universal, tradisi budaya, kesepaatan sosial dan religiositas agama.
  2. Menanamkan jiwa kepemimpinan yang bertanggung jawab sebagai penerus bangsa.
  3. Memupuk kepekaan mental peserta didik terhadap situasi sekitarnya, sehingga tidak terjerumus ke dalam perilaku yang menyimpang, baik secara individu maupun sosial.
  4. Meningkatkan kemampuan menghindari sifat tercela yang dapat merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
  5. Agar siswa memahami dan menghayati nilai-nilai yang relevan bagi pertumbuhan dan pengahargaan harkat dan martabat manusia.


C. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter

Nilai-nilai di bawah ini merupakan uraian berbagai perilaku dasar dan sikap yang diharapkan dimiliki peserta didik sebagai dasar pembentukan karakternya yakni: nilai keutamaan, nilai kerja, nilai cinta tanah air (patriotisme), nilai demokrasi, nilai kesatuan, menghidupi nilai moral, nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai di atas diambil sebagai garis besarnya saja, sifatnya terbuka,artinya masih bisa ditambahkan nilai-nilai lain yang relevan dengan situasi sekolah. Misalnya: taqwa kepada Tuhan, tanggung jawab, disiplin, mandiri, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli dan kerja sama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan persatuan, dapat dipercaya,rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab, kewarganegaraan/citizenship, ketulusan, berani, tekun, integritas, jujur, tanggung jawab, disiplin, visioner, adil, peduli, kerjasama..

D. Prinsip Pelaksanaan Pendidikan karakter

Pendidikan karakter di sekolah memerlukan prinsip-prinsip dasar yang mudah dimengerti dan dipahami oleh siswa dan setiap individu yang bekerja di sekolah tersebut. Prinsip-prinsip tersebut antara lain :

  1. Karaktermu ditentukan oleh apa yang kamu lakukan, bukan apa yang kamu katakan atau kamu yakini.
  2. Setiap keputusan yang kamu ambil menentukan akan menjadi orang macam apa dirimu.
  3. Karakter  yang baik mengandaikan bahwa hal yang baik itu dilakukan dengan cara-cara yang baik, bahkan seandainya pun kamu harus membayarnya secara mahal, sebab mengandung resiko.
  4. Jangan pernah mengambil perilaku buruk yang dilakukan oleh orang lain sebagai patokan bagi dirimu. Kamu dapat memilih patokan yang lebih baik dari mereka.
  5. Apa yang kamu lakukan itu memiliki makna dan transformatif. Seorang individu bisa mengubah dunia.
  6. Bayaran bagi mereka yang memiliki karakter baik adalah bahwa kamu menjadi pribadi yang lebih baik, dan ini akan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk dihuni.


E. Strategi dan Metodologi Pendidikan Karakter

Strategi yang diterapkan oleh pendidikan karakter  yaitu dengan menggunakan strategi terintegrasi dalam mata pelajaran lainnya. Nilai-nilai karakter dapat disampaikan melalui mata pelajaran: agama, pendidikan kewarganegaraan (PKn), pendidikan jasmani dan olah raga, IPS, bahasa Indonesia dan pengembangan diri. Pendidikan karakter di sekolah lebih banyak berurusan dengan penanaman nilai. Pendidikan karakter agar dapat disebut sebagai integral dan utuh harus menentukanmetode yang dipakai, sehingga tujuan pendidikan karakter itu akansemakin terarah dan efektif. Adapun unsur-unsur yag harus dipertimbangkan dalam menentukan metode yang dapat diterapkan dalam pendidikan karakter antara lain :

Mengajar, yaitu dengan cara mengajarkan nilai-nilai itu sehingga peserta didik memiliki gagasan konseptual tentang nilai-nilai pemandu perilaku yang bias dikembangkan dalam mengembangkan karakter pribadinya. Keteladanan, yaitu suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru, kepalasekolah, dan staf administrasi disekolah yang dapat dijadikan sebagai model teladan bagi siswa.Karena siswa akan lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat.

Menentukan prioritas, yaitu setiap yang terlibat dalam sebuah lembaga pendidikan yang ingin menekankan pendidikan karakter juga harus memahami secara jernih prioritas nilai apakah yang ingin ditekankan dalam pendidikan karakter dalam satuan pendidikan tertentu.

Refleksi, yaitu mengadakan semacam pendalaman, refleksi untuk melihat sejauh mana satuan pendidikan telah berhasil atau gagal dalam melaksanakan pendidikankarakter. Metode-metode yang bisa diterapkan dalam pendidikan karakter misalnya dengan menggunakan pendekatan penanaman nilai (InculcationApproach), perkembangan moral kognitif, analisis nilai (Values Analysis Approach), klarifikasi nilai, pembelajaran berbuat (ActionLearning Approach), Student Active Learning, Developmentally Appropriate Pro Contextual Learning yang dapat menciptakan pengalaman belajar yang efektif dan menyenangkan.

F. Penilaian Pendidikan Karakter

Penilaian adalah suatu usaha untuk memperoleh berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil pertumbuhan serta perkembangan karakter yang dicapai siswa. Tujuan penilaian dilakukan untuk mengukur seberapa jauh nilai-nilai yang dirumuskan sebagai standar minimal telah dikembangkan dan ditanamkan di sekolah serta dihayati, diamalkan, diterapkan dan dipertahankan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. 

Penilaian pendidikan karakter lebih dititik beratkan kepada keberhasilan penerimaan nilai-nilai dalam sikap dan perilaku peserta didik sesuai dengan nilai-nilai karakter  yangditerapkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jenis penilaian dapat berbentuk penilaian sikap dan perilaku, baik individu maupun kelompok. Cara penilaian pendidikan karakter pada peserta didik dilakukan oleh semua guru. Penilaian dilakukan setiap saat, baik pada jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran, dikelas maupun di luar kelas dengan cara pengamatan dan pencatatan. Instrumen penilaian dapat berupa lemabar observasi, lembar skala sikap, lembar portofolio, lembar check list, dan lembar pedoman wawancara. Informasi yang diperoleh dari berbagai teknik penilaian kemudian dianalisis oleh guru untuk memperoleh gambaran tentang karakter peserta didik. Gambaran menyeluruh tersebut kemudian dilaporkan sebagai suplemen buku rapor oleh wali kelas.
Peningkatkan Mutu Pendidikan Karakter Di Jenjang Pendidikan

Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Menurut UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 13 Ayat 1 menyebutkan bahwa Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan informal sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan. Peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah hanya sekitar 7 jam per hari, atau kurang dari 30%. Selebihnya (70%), peserta didik berada dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Jika dilihat dari aspek kuantitas waktu, pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sebesar 30% terhadap hasil pendidikan peserta didik. Selama ini, pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta didik. 

Kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif tinggi, kurangnya pemahaman orang tua dalam mendidik anak dilingkungan keluarga, pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar, dan pengaruh media elektronik ditengarai bisa berpengaruh negatif terhadap perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Dalam hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar dapat dicapai, terutama dalam pembentukan karakter peserta didik.